Praktik Keadilan di Indonesia
Bahan
Alkitab: Matius 20:1–16
A. Pengantar
Judul
pelajaran ini adalah “Praktik Keadilan di Indonesia”. Setelah mengkaji tentang
demokrasi dari perspektif Alkitab, kita akan menerapkan pemahaman yang kita
miliki ini dalam menyoroti praktik keadilan di Indonesia. Perjalanan demokrasi
sebagai wujud keadilan di Indonesia menjadi perhatian bagi negara-negara asing,
misalnya saja, Amerika Serikat. Dengan jumlah penduduk yang banyak (paling
banyak se Asia Tenggara, paling banyak untuk jumlah penduduk Muslim se dunia),
maka Indonesia memiliki peran strategis di mata bangsa-bangsa lain. Peran ini
adalah dari segi ekonomi, politik, budaya, dan lain-lainnya. Misalnya saja,
secara ekonomi, Indonesia sering dijadikan sasaran untuk pemasaran produk dari
luar negeri. Secara politik, Indonesia diharapkan berperan untuk menjaga
perdamaian di wilayah Asia Tenggara khususnya dan di Asia Pasifik. Beberapa
kali Indonesia diminta menjadi mediator di antara pihak-pihak yang berkonflik.
Misalnya, Indonesia menjadi mediator untuk perjanjian damai antara
MNLF-Filipina sejak 1993. Peran ini berhasil dijalankan dengan baik sampai
disepakatinya perjanjian damai pada tanggal 2 September 1996 di Manila,
Filipina. Juga, kepemimpinan Indonesia di APEC (Asia Pacific Economy
Corporation) membuka peluang untuk kerjasama di bidang ekonomi agar terjadi
pertumbuhan ekonomi yang lebih baik di antara negara-negara anggota APEC.
Lepas dari
keberhasilan ini semua, apakah keadilan di Indonesia sudah berjalan dengan baik?
Dari hal-hal apa saja kita dapat menilai keberhasilan atau kemunduran praktik
keadilan di Indonesia? Inilah yang akan kita bahas dalam pelajaran kali ini.
Pelaksanaan demokrasi sebagai cermin keadilan menjadi salah satu ukuran bahwa
suatu negara adalah negara yang sukses, bukan negara gagal (ingat pembahasan di
Bab III?)
Sebelum kita
membahas praktik keadilan di Indonesia, perlu kita pahami dulu tentang kaitan
antara demokrasi dan keadilan. John Rawls (2003), seorang filsuf dari Amerika
Serikat dan tokoh di bidang filsafat moral dan politik, menyatakan bahwa
keadilan (justice) adalah dasar bagi interaksi manusia (yang sifatnya
multidimensi) dengan institusi. Tujuannya adalah agar ada keseimbangan antara
demokrasi dengan keamanan sehingga tercapailah kestabilan di dalam masyarakat.
Perlu ada kesepakatan antara komunitas yang terbentuk secara politik dengan
pemerintah sehingga secara bersama-sama terjalin saling memahami dan kerjasama.
Keadilan dan demokrasi bertumbuh bila institusi, baik politik maupun sosial,
saling mendukung untuk mencapai kerjasama sosial dimana ada hak dan kewajiban
dasar yang harus dipenuhi agar kekuasaan dan sumber-sumber yang ada dapat
dibagi merata, bukan hanya untuk sekelompok orang. Untuk mencapai ini, perlu
ada pembatasan terhadap kekuasaan dan pemanfaatan sumber-sumber alam, selain
mencegah munculnya penyalah gunaan oleh sekelompok orang, atau institusi.
B. Mengkaji Perumpamaan Alkitab tentang Keadilan
Bacalah Matius 20:1-16
1) Adapun hal
Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi- pagi benar keluar
mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. 2) Setelah ia sepakat dengan
pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun
anggurnya. 3) Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada
lagi orang-orang lain menganggur di pasar. 4) Katanya kepada mereka: “Pergi
jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu.”
Dan merekapun pergi. 5) Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia
keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. 6) Kira- kira pukul lima petang ia
keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka:
“Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?” 7) Kata mereka
kepadanya: “Karena tidak ada orang mengupah kami.” Katanya kepada mereka:
“Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.” 8) Ketika hari malam tuan itu berkata
kepada mandurnya: “Panggillah pekerja- pekerja itu dan bayarkan upah mereka,
mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.” 9)
Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka
menerima masing-masing satu dinar. 10) Kemudian datanglah mereka yang masuk
terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima
masing-masing satu dinar juga. 11) Ketika mereka menerimanya, mereka
bersungut-sungut kepada tuan itu, 12) katanya: “Mereka yang masuk terakhir ini
hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari
suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.” 13) Tetapi tuan itu
menjawab seorang dari mereka: “Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap
engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? 14) Ambillah bagianmu dan
pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.15)
Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri
hatikah engkau, karena aku murah hati?” 16) Demikianlah orang yang terakhir
akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.
Bila kamu
adalah pekerja yang mulai bekerja pada jam 5 sore, apa yang akan kamu rasakan?
Apakah perasaanmu akan berbeda bila kamu mulai bekerja sejak pagi sekali? Mana
yang lebih kamu sukai, bekerja dari pagi hari atau dari sore hari, jika
ternyata upahmu akan sama saja, yaitu sedinar untuk seharian bekerja? Sedinar
adalah upah yang layak untuk seharian kerja, kira-kira antara 30 – 60 ribu
rupiah. Kemungkinan besar kamu akan memilih untuk memulai pada jam 5 sore dan
selesai jam 6 sore dengan mendapatkan upah sebesar sedinar. Sepintas, kita
cenderung menilai bahwa yang memilih datang pada sore hari dan bukan pagi hari
adalah pemalas, hanya mau enak-enak saja, kerja sebentar tetapi mendapatkan
upah penuh seperti pekerja yang sudah mulai kerja sejak pagi hari.
Namun,
bayangkan bila kamu memang butuh pekerjaan dan sudah menunggu sejak pagi hari
untuk pekerjaan yang dapat memberikan upah yang layak. Sejak pagi hari, kamu
sudah berharap ada yang mau mempekerjakanmu. Sayangnya, hari berjalan terus dan
yang kamu nantikan tidak kunjung datang. Sinar matahari yang hangat kini
menjadi semakin terik bahkan sudah semakin tenggelam menandakan malam akan
hadir. Pekerjaan yang kamu tunggu-tunggu sejak pagi tidak kunjung datang. Kamu
sudah tidak dapat lagi berharap bahwa ada yang akan datang memberikan
pekerjaan.
Namun,
ternyata dugaanmu salah. Ada seorang pengusaha yang menawarkan pekerjaan untuk
diselesaikan, saat itu juga. Kamu tidak percaya, namun tawaran ini terlalu
menarik untuk ditolak. Kamu pun sepakat untuk pergi ke tempat usahanya, kebun
anggur dan mulai bekerja sebisamu. Disitu kamu melihat sudah ada sejumlah
pekerja, bahkan ada yang sudah mulai bekerja sejak pagi-pagi sekali. Dalam
hati, kamu iri terhadap mereka yang sudah memiliki pekerjaan sejak pagi hari,
sedangkan kamu berharap seharian tanpa kepastian apakah kamu akan mendapatkan
pekerjaan. Akan tetapi kamu singkirkan rasa iri itu dan langsung bekerja
sebaik-baiknya sambil berharap agar esok hari kamu tidak terlambat untuk
mendapatkan pekerjaan. Menunggu dalam ketidakpastian sungguh tidak enak,
apalagi jika ada anggota keluarga di rumah yang juga menunggumu pulang sambil
membawa uang untuk membeli makanan.
Kini jam 6
sore tiba, saatnya para pekerja berhenti bekerja. Kamu juga sudah harus
berhenti, padahal, kamu berharap dapat bekerja lebih lama agar upah yang
diterima dapat cukup untuk membeli makanan. Dalam hati kamu tahu bahwa kamu
tidak bisa berharap untuk mendapatkan upah yang sama besarnya dengan yang sudah
mulai bekerja dari pagi hari. Namun, mendapatkan upah walaupun sedikit masih
lebih baik daripada tidak sama sekali.
Ternyata,
namamu dipanggil lebih dahulu oleh sang mandor. Kamu diberikan uang sedinar
sebagai upahmu bekerja sejak jam 5 sore tadi. Kamu bersyukur. Ternyata bekerja
sejam diberikan upah yang layak seakan-akan kamu bekerja seharian penuh. Apakah
kau bersyukur untuk upah yang kamu terima? Tentu saja, bersyukur. Kamu akan
mendatangi sang pengusaha dan menyatakan ungkapan syukurmu untuk kebaikan
hatinya.
Tapi, tunggu
dulu! Pada saat itu juga, kamu mendengar gerutu dan omelan dari pekerja yang
mulai bekerja sejak pagi hari. Mereka tidak dapat menerima bahwa mereka
mendapatkan upah yang besarnya sama denganmu, padahal mereka sudah bekerja
lebih lama. Tentu perasaanmu menjadi tidak karuan mendengarkan gerutu itu,
bukan? Kamu tidak tahu harus menjawab apa atau harus bersikap bagaimana kepada
mereka.
Ternyata kamu
tidak perlu menjawab apa pun karena sang pengusaha sudah memberikan penjelasan:
“Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah
sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan
kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas
mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena
aku murah hati?” Saat itu juga kamu menyadari bahwa kamu berada di dalam
perlindungan orang yang mempedulikanmu, yang tahu apa yang kamu butuhkan, yaitu
upah yang layak. Kata-kata sang pengusaha “… aku mau memberikan kepada orang
yang terakhir ini sama seperti kepadamu,” sungguh menyejukkan dan sekaligus
melegakan karena kamu merasa dihargai oleh sang pengusaha.
Perhatikan
bahwa sang pengusaha memberlakukan baik prinsip keadilan maupun prinsip kasih
karunia. Apa yang layak diterima seseorang, itulah yang diberikannya. Ini
berlaku kepada para pekerja yang mulai bekerja dari pagi hari. Para pekerja ini
dapat menuntut andaikata sang pengusaha tidak memenuhi bayaran sedinar seperti
yang sudah disepakati sejak awal. Namun, pada pekerja yang datang paling
terakhir, yang berlaku adalah prinsip kasih karunia. Pemberian berdasarkan
kasih karunia adalah pemberian yang bergantung pada si pemberi. Dalam hal ini,
kita selaku orang yang menerima kasih karunia, tidak dapat menuntut agar si
pemberi memberikan apa yang kita harapkan. Kita adalah pihak yang pasif, hanya
menerima saja apa yang diberikan, karena yang aktif justru adalah pemberi kasih
karunia. Posisi ini berbeda dengan yang menerima keadilan. Diperlakukan adil
adalah sesuatu yang perlu kita perjuangkan karena itu merupakan hak.
C. Contoh Menuntut Keadilan dan Demokrasi
Artikel di
bawah ini adalah contoh menuntut keadilan dan demokrasi yang memberikan bukti
bahwa seorang remaja berusia 17 tahun ternyata sanggup menggerakkan teman-teman
sebaya untuk menuntut hak mereka dari pemerintah.
Tribunnews.com,
Hongkong - Jangan tertipu dengan tampilan fisiknya. Meski badannya terbilang
kurus, dan memiliki wajah seperti kutu buku, Joshua Wong (17), merupakan
aktivis pro-demokrasi Hongkong yang paling ditakuti oleh pemerintah Tiongkok.
Selama dua tahun terakhir, pelajar ini telah membangun gerakan pemuda
pro-demokrasi di Hong Kong dengan mengkampanyekan peristiwa berdarah di
lapangan Tiananmen, Tiongkok, 25 tahun lalu dengan tujuan menyulut gelombang
pembangkangan sipil di kalangan mahasiswa Hongkong. Dengan demikian ia berharap
pemerintah Tiongkok mendapatkan tekanan sehingga memberikan Hongkong hak pilih
universal.
Dikutip dari
CNN, Rabu (24/9/2014), gerakan Wong dibangun di tahun-tahun penuh frustrasi
bagi masyarakat Hongkong. Ketika negara bekas koloni Inggris itu dikembalikan
ke pemerintahan Tiongkok di tahun 1997, kedua negara sepakat akan memberikan
Hongkong ‘otonomi tingkat tinggi’ termasuk memilih pemimpin mereka secara
demokratis.
Namun hingga
17 tahun kemudian, janji itu tak juga dipenuhi. Proposal terbaru yang diajukan
oleh Pemerintah Tiongkok adalah bahwa pihaknya akan mengakui pemimpin terpilih
Hongkong jika telah mengantongi restu mereka.
Wong memerangi
proposal pemerintah Tiongkok itu, dan tak sabar untuk memenangkannya.
“Saya tidak
berpikir pertempuran kami akan menjadi sangat panjang, jika anda memiliki
mentalitas bahwa perjuangan untuk sebuah demokrasi adalah panjang,
berlarut-larut dan harus melalui langkah-langkah bertahap. Maka anda tidak akan
pernah mendapatkannya,” ujarnya.
“Anda harus
melihat setiap pertempuran adalah pertempuran terakhir, dan anda harus memiliki
tekat kuat untuk melawan,” serunya.
Jejak
pemberontakan Wong terhadap pemerintah Tiongkok dapat dilacak sejak ia berusia
15 tahun. Kala itu Wong muda, menyatakan menolak materi patriotik, pro-Komunis
“Nasional dan Pendidikan Moral” ke sekolah-sekolah umum di Hongkong.
Dengan bantuan
dari beberapa teman, Wong membentuk kelompok aktivis mahasiswa yang disebut
Scholarism. Gerakan ini membengkak melampaui mimpi-mimpinya yang paling liar:
Pada bulan September 2012, Scholarism berhasil mengumpulkan 120.000
demonstran--termasuk 13 relawan aksi mogok makan untuk menduduki markas
pemerintah Hongkong, memaksa para pemimpin menarik kurikulum yang diusulkan.
Saat itulah
Wong menyadari bahwa pemuda Hongkong memegang kekuasaan yang signifikan.
“Lima tahun
yang lalu, saat itu tak terbayangkan bahwa siswa Hongkong akan peduli tentang
politik sama sekali,” katanya. “Tapi ada kebangkitan ketika isu pendidikan
nasional terjadi. Kita semua mulai peduli tentang politik.”
Ia pun
membeberkan, Hong Kong dibawah kependudukan Tiongkok, tidak memiliki kebebasan
sama sekali. Ia mencontohkan bagaimana surat kabar di Hongkong, lebih banyak
memuat artikel yang memuat kepentingan Pemerintah Tiongkok.
Itu sebabnya
Wong menetapkan sasaran agar Hongkong dapat memiliki hak pilih universal.
Gerakannya kini memiliki anggota sebanyak 300 orang siswa.
Pada bulan
Juni, Scholarism menyusun rencana untuk mereformasi sistem pemilu Hongkong,
dimana memenangkan dukungan dari hampir sepertiga dari pemilih. Dukungan itu
didapatkannya berdasarkan referendum tak resmi yang digagas pihaknya.
Sumber:
Tribunnews.com
Merujuk pada
perumpamaan dalam Matius 20, apa yang dituntut oleh Wong dan kawan-kawan adalah
keadilan, yaitu sesuai dengan yang sudah disepakati pada awalnya. Mengapa
mereka perlu menuntut? Karena pemerintah Tiongkok tidak melakukan apa yang
mereka janjikan kepada penduduk Hongkong.
D. Pelaksanaan Keadilan dan Demokrasi di Indonesia
Sejak 1998
Membahas
pelaksanaan demokrasi sebelum tahun 1998 bukan merupakan hal yang perlu dibahas
disini karena lebih tepat dibahas di pelajaran Sejarah atau Pendidikan
Kewarganegaraan. Kini kita hidup di era reformasi yang diawali dengan
ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintahan saat itu. Dapat dikatakan bahwa
demokrasi di Indonesia menunjukkan perkembangan menuju perbaikan sejak tahun
1998 yang merupakan salah satu tonggak sejarah di Indonesia. Ini adalah tahun
dimana pemerintahan Soeharto berakhir dan tampuk pemerintahan beralih ke B.J.
Habibie selaku Presiden Republik Indonesia yang ketiga. Pemerintahan Soeharto
disebut Orde Baru yang dikecam karena menggunakan pendekatan otoriter walaupun
masa itu disebut juga dengan Demokrasi Pancasila. Orde Baru memang menggantikan
rezim Orde Lama di bawah pemerintahan Presiden Soekarno.
Reformasi ini diwujudkan dalam kehidupan berpolitik dan bermasyarakat yang sifatnya menjadi lebih bebas dan terbuka (Indonesia-investment, 2013). Kebebasan dalam berpolitik, misalnya adalah kebebasan untuk mendirikan partai politik yang memiliki visi misi yang berbeda dari partai politik yang sudah ada pada kepemimpinan Soeharto. Secara lebih rinci, pencapaian Habibie dalam bidang reformasi ini adalah:
- Memberikan kebebasan pers
- Pendirian partai politik dan sejumlah serikat misalnya serikat buruh
- Pembebasan sejumlah narapidana politik
- Pembatasan periode kepresiden menjadi maksimal dua kali lima tahun
- Pelimpahan sebagian kewenangan dan kekuasaan ke pemerintah daerah.
- Penyelenggaraan pemilihan umum pada tahun 1999, walau pun pemilihan presiden sebelumnya baru saja dilakukan pada tahun 1998 oleh Dewan Perwakilan Rakyat.
Sayangnya,
pada masa ini juga mulai muncul tindakan kekerasan seperti yang terjadi di
Ambon, Kalimantan Barat, Jawa Timur, dan Kupang tidak mudah ditelusuri siapa
pelakunya. Pada masa inilah kemerdekaan Timor Timur diakui oleh pemerintah
Indonesia.
Pada tahun
1999, sebagai tindak lanjut dari reformasi dalam bidang politik, rakyat
Indonesia mengikuti pemilihan umum untuk memilih partai politik yang saat itu
berjumlah 48 partai. Tentu saja banyak dari partai politik ini yang tidak
mendapatkan suara karena memang kurang dikenal oleh masyarakat luas terkait
dengan umur yang masih pendek sebagai suatu partai. Salah satu partai yang mendapatkan
dukungan luas adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang didirikan oleh
Megawati Soekarnoputri, putri sulung dari Soekarno, Presiden pertama Indonesia.
Partai lainnya adalah Partai Kebangkitan Bangsa yang didirikan oleh K. H.
Abdurrahman Wahid yang juga merupakan tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Wujud
demokrasi yang muncul dalam pemilihan umum ini adalah bahwa Dewan Perwakilan
Rakyat memiliki wakil-wakil dari pulau Jawa maupun luar Jawa yang dibuat
menjadi sama besar, tidak lagi lebih banyak wakil dari pulau Jawa.
Presiden Habibie digantikan oleh Presiden K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada tahun 1999. Contoh pembaharuan yang terjadi pada masa ini adalah pengangkatan menteri kabinet yang berasal dari partai politik dan mengurangi peranan dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), padahal, sejumlah konflik dan tindak kekerasan yang muncul di Indonesia memang perlu ditangani oleh TNI dan ABRI. Sementara itu, korupsi tetap terjadi dan melibatkan menteri-menteri yang berasal dari partai politik yang utama. Pada masa pemerintahan Gus Dur, reformasi diwujudkan dalam bentuk antara lain:
- Kebebasan pers semakin luas karena Departemen Penerangan dihapuskan.
- Kelompok Tionghoa mendapatkan pengakuan lebih besar melalui kemudahan dalam mengurus dokumen kewarganegaraan dan penetapan hari raya Imlek sebagai hari libur nasional.
- Mengakui Konghucu sebagai salah satu kepercayaan yang ada di kalangan rakyat Indonesia.
Namun, karena
ada sejumlah ketidakberesan politik yang juga mengakibatkan ketidakstabilan
ekonomi, Gus Dur diturunkan oleh DPR dan digantikan oleh Megawati selaku Wakil
Presiden.
Secara umum
pemerintahan Megawati melanjutkan kebijakan baik yang sudah dilakukan di era
Gus Dur. Perubahan yang dilakukan antara lain adalah mengadili kroni-kroni
Soeharto untuk kasus korupsi, melakukan privatisasi sejumlah perusahaan negara
dengan menjualnya ke swasta atau ke pihak asing. Untuk tindakan terakhir ini
cukup banyak kritik dilontarkan kepada Megawati.
Pada tahun 2004 pemerintahan Megawati berakhir dan melalui pemilihan langsung presiden yang pertama kali dilakukan oleh rakyat Indonesia, Susilo Bambang Yudoyono (SBY) menjadi Presiden RI yang kelima. Sejumlah pembaharuan yang dilakukan dalam dua periode pemerintahan SBY (tahun 2004- 2014) antara lain adalah:
- Di bidang ekonomi, terjadi pertumbuhan sehingga ada stabilitas ekonomi dengan kekuatan ekonomi yang diakui negara-negara lain.
- Ada alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebesar 20% untuk pendidikan.
- Meninggalkan IMF selaku badan ekonomi yang sebelumnya banyak mendikte apa yang harus dilakukan oleh pemerintahan Indonesia dalam bidang ekonomi.
- Peningkatan kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi untuk menuntaskan kasus- kasus korupsi. KPK kini dianggap sebagai lembaga yang bekerja dengan baik karena berhasil menuntaskan kasus-kasus korupsi termasuk yang melibatkan sejumlah anggota DPR dan menteri.
Namun
demikian, ada sejumlah kasus yang tetap belum dapat diselesaikan dengan baik,
misalnya saja penyelesaian kasus orang hilang yang terjadi pada masa
pemerintahan sebelumnya. Satu tradisi baru dalam demokrasi yang sudah berjalan
baik sejak tahun 2004 adalah pemilihan presiden, anggota DPR, anggota DPRD,
anggota DPD, Kepala Daerah (gubernur dan bupati) secara langsung oleh rakyat.
Ini merupakan prestasi pemerintahan Indonesia yang diakui oleh dunia.
Sayangnya, menjelang akhir pemerintahan SBY, pemilihan langsung ini diganti
oleh DPR menjadi tidak langsung melalui pengesahan Undang-Undang Pemilihan
Kepala Daerah pada tanggal 26 September 2014.
Jadi dapat
dikatakan bahwa perjalanan demokrasi di Indonesia masih akan berlangsung
panjang demi menjamin tercapainya keadilan, kesempatan menyuarakan pendapat dan
mengawasi jalannya pemerintahan. Demokrasi hanya dapat terwujud apabila
demokrasi sebagai prinsip dan acuan hidup bersama antarwarga negara dengan
negara dijalankan dan dipatuhi oleh semua pihak. Perwujudan demokrasi bukan
hanya tanggung jawab pemerintah dan negara semata-mata melainkan merupakan
bagian dari tanggung jawab warga negara.
Bacalah
laporan berita di bawah ini:
Indonesia Miliki Tujuh Aspek Demokrasi
VIVAnews -
Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies, Rizal Sukma,
menganalisis Indonesia telah berada di tahap Demokrasi. Tujuh aspek demokrasi
telah berjalan baik.
Pertama,
Indonesia telah menganut sistem multipartai. “Sejak dulu sistem ini telah
berlaku namun partai yang benar-benar ada hanya satu partai pemerintah, dua
partai lainnya hanya aksesoris,” kata Rizal dalam pemaparan kepada 35 mahasiswa
Stanford Graduate School of Business di Hotel Intercontinental MidPlaza,
Jakarta, Senin 21 Desember 2009.
Kedua,
Indonesia telah menggelar Pemilu Demokratis, bahkan sudah tiga kali.
Ketiga,
Indonesia melakukan desentralisasi pemerintahan. “Sejak Undang- undang mengenai
desentralisasi disahkan pada 2001, kekuasaan pemerintahan didistribusikan
hingga tingkat kabupaten. Sebelumnya semua berpusat di Jakarta, bahkan kepada
satu orang di Jakarta,” ujar Rizal.
Aspek keempat
adalah kebebasan pers. Rizal menyatakan, pada 2008, Indonesia merupakan
satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memiliki pers bebas.
Aspek kelima,
militer tidak terlibat dalam politik. “Dan terus bergerak menuju
profesionalisme. Militer juga harus bersikap netral dalam politik.Ini agenda
yang belum selesai,” kata Rizal di hadapan para mahasiswa dari universitas yang
menurut majalah Forbes terbaik di Amerika Serikat itu.
Aspek keenam,
Indonesia menunjukkan bahwa kekuatan politik berbasis Islam bisa bermain di
dunia politik dengan mengikuti aturan main.
Dan ketujuh,
kekuatan masyarakat sipil semakin meningkat melalui lembaga swadaya masyarakat
atau organisasi lainnya.
Sumber:
Vivanews.com
Dari laporan
di atas tersirat bahwa demokrasi Indonesia telah berjalan baik karena negara
kita memiliki tujuh aspek pentingnya: sistem multipartai, pemilu yang
demokratis, desentralisasi pemerintahan, kebebasan pers, militer yang tidak
terlibat politik, kekuatan politik Islam dalam dunia politik yang pluralistik,
dan kekuatan masyarakat sipil. Tetapi, seberapa jauh hal di atas dapat kita
setujui?
Laporan di
atas jelas menunjukkan masih banyak pekerjaan rumah yang harus dijalankan oleh
bangsa Indonesia, supaya kita benar-benar dapat mewujudkan negara dan bangsa
yang demokratis dan adil, sesuai dengan apa yang dirumuskan oleh Pancasila.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa berjalannya demokrasi dengan baik terkait
erat dengan kesejahteraan masyarakat. Dalam situasi dimana sangat banyak
penduduk yang miskin dan terdapat kesenjangan yang luas antara penduduk kaya
dengan penduduk miskin, keadilan, dan demokrasi sulit terwujud. Mengapa begitu?
Karena kesenjangan antara kelompok kaya dan kelompok miskin muncul akibat ada
kelompok penguasa yang membiarkan situasi kesenjangan untuk kepentingan mereka.
Kondisi Indonesia yang masih dikategorikan memiliki banyak korupsi termasuk hal
yang memprihatinkan. Pemerintah dan rakyat Indonesia perlu bekerja keras untuk
membasmi korupsi yang sudah dianggap terstruktur dan massif (Kompas, September
2014). Rencana Bank Dunia dalam membangun kemitraan dengan Indonesia
menunjukkan bahwa tingkat korupsi yang tinggi menjadi hal yang harus dapat
ditangani oleh Pemerintah Indonesia agar dapat menjamin masyarakat Indonesia yang
sejahtera. Kondisi bahwa 40% masyarakat Indonesia hidup di ambang kemiskinan
dengan pengeluaran sebesar 1,5 dolar Amerika per hari sangatlah memprihatinkan.
Inilah hal-hal yang harus dibereskan sebelum demokrasi berjalan dengan baik di
negara Indonesia.
E. Memupuk Sikap Adil Sejak Dini
Sama seperti
halnya memupuk demokrasi, sikap adil harus dipupuk sejak dini. Kita tidak bisa
memiliki sikap adil bila kita tidak pernah merasakan diperlakukan adil. Dengan
kata lain, pengalaman diperlakukan dengan adil akan memupuk sikap adil terhadap
orang lain. Dari mana kita merasakan diperlakukan dengan adil? Tentunya dari
pengalaman di keluarga dan sekolah sebagai unit dan lembaga pertama yang
dialami oleh individu. Seluruh pihak yang terlibat harus sepakat bahwa keadilan
harus ditegakkan dan kepedulian terhadap sesama memang mewarnai keputusan yang
diambil dan tindakan yang dilakukan. Sejak kecil, orang tua hendaknya tidak
membeda-bedakan antara anak yang satu dengan anak yang lain. Tidak boleh ada
anak yang menganggap bahwa dirinya lebih istimewa dari saudara-saudara kandung
lainnya maupun menganggap diri lebih istimewa daripada orang lain.
Di pembahasan
sebelumnya kita sudah tahu bahwa untuk memupuk sikap demokratis sejak dini,
orang tua perlu menerapkan pola asuh yang demokratis, yaitu yang memberi
kesempatan kepada anak untuk menyuarakan pendapat mereka yang mungkin saja
berbeda dari pendapat orang tua. Penghargaan kepada pendapat anak akan memupuk
rasa percaya diri anak yang berakibat pada munculnya rasa menghargai orang lain
juga. Melengkapi sikap demokratis ini, sikap adil ditumbuhkan bila individu
merasakan bahwa ia sama berharganya dan sama istimewanya dengan orang-orang
lain. Dasar dari ini adalah, bahwa setiap orang sama berharganya di hadapan
Allah. Beberapa penelitian (misalnya Howe, Cate, Brown, & Hadwin, 2008)
menunjukkan bahwa seorang anak yang berusia lima tahun pun sudah memiliki
kemampuan empati, yaitu belas kasihan kepada orang lain. Tentunya rasa belas
kasihan tindak mendadak tumbuh begitu saja, namun karena memiliki rasa tidak
tega melihat orang lain mengalami kekurangan dibandingkan dengan dirinya.
F. Rangkuman
Demokrasi dan keadilan memang tidak dapat dipisahkan. Perjalanan demokrasi di Indonesia masih panjang dan untuk itu masih banyak hal yang perlu dilakukan. Sebagai siswa kelas XII kamu dapat memberikan penilaian terhadap pelaksanaan demokrasi di Indonesia. Namun, lebih jauh lagi, sebagai remaja Kristen dan warga negara Indonesia kamu mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk memantau praktik-praktik demokrasi di Indonesia. Berbicaralah, bertindak dan berjuanglah demi demokrasi dan kehidupan yang lebih baik di Indonesia dan di dunia.
Tugas
- Tuliskan dalam maksimal empat kalimat tentang pemahaman yang kamu miliki mengenai keadilan di Indonesia!
- Apa saja tindakan yang pernah kamu lakukan yang menunjukkan bahwa kamu menjunjung tinggi nilai keadilan dan kepedulian? Sebutkan minimal dua!
- Pilihlah dua berita dari media massa yang menceritakan tentang kondisi keadilan di Indonesia! Satu berita itu haruslah yang menceritakan keberhasilan pelaksanaan keadilan, dan satu berita lainnya adalah tentang kegagalan pelaksanaan keadilan. Ruang lingkup pelaksanaan keadilan itu boleh di pemerintahan (mulai dari pemerintahan pusat sampai dengan jajaran yang terendah di tingkat Rumah Tangga/Rukun Warga), boleh di masyarakat lokal, sekolah atau institusi pendidikan, atau keluarga. Ceritakan ulang di depan kelas, dimana letak keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan keadilan itu!
- Apakah kamu setuju dengan pernyataan ini: “Kunci dari semua ini adalah pemberdayaan masyarakat. Bila masyarakat kuat, maka penyelewengan, pelanggaran demokrasi dan hak asasi manusia, dan berbagai tindakan sewenang-wenang lainnya akan dapat dikurangi atau bahkan dihapus sama sekali”? Berikan alasanmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar